Piala dunia 2010 Afrika Selatan memang sudah selesai, tapi ada cerita yang ingin saya bagi tentang dibalik keceriaan saya selama sebulan penuh ini.
Pertama kali saya menyaksikan perhelatan piala dunia adalah pada tahun 1994, yang diadakan di United States. Tidak terlalu fokus karena pada saat usia saya masih berusia 8-9 tahun, tapi sudah kenal dengan yang namanya Maradona, Romario, Bebeto dan Roberto Baggio. Orang-orang yang menjadi bintang saat piala dunia itu berlangsung.
Tahun 1998 dan tepat dimana saya baru saja lulus dari Sekolah Dasar, saya baru benar-benar mengikuti secara serius ajang 4 tahunan ini. Tabloid Bola edisi selasa dan jumat tidak pernah lupa untuk dibeli, ditambah dengan surat kabar lain yang dibeli orang tua saya, sambil tidak pernah mau terlewatkan acara-acara televisi yang memberitakan seputar piala dunia.
Pengalaman tahun 2002 tidak berbeda jauh dengan tahun 1998, bedanya banyak pertandingan yang tidak bisa saya nikmatin secara langsung, dikarenakan bentrok dengan jam sekolah.
Tahun 2006, adalah titik dimana saya mulai menjauhi televisi, dan mulai mengakrabkan diri dengan Komputer. Waktu untuk piala dunia pun sedikit berkurang, dan waktu untuk komputer mulai menjadi banyak.
Tahun 2010 saat pertama kalinya piala dunia diadakan di benua Afrika, dan untuk pertama kalinya saya tidak bisa menikmati piala dunia seperti piala dunia sebelum-sebelumnya.
Ada 2 hal yang ternyata mengalahkan indahnya piala dunia, pertama adalah RSCM dan kedua adalah Web Project. Dua hal yang memang harus tetap berjalan, karena yang pertama menyangkut kesehatan orang tua, dan yang kedua menyangkut masa depan, dan saya paham bahwa sepak bola hanyalah hiburan.
Setiap harinya saya harus pulang pergi ke Radioterapi RSCM untuk melakukan penyinaran di daerah terdiagnosa Kanker Laring yang diperkirakan oleh para dokter dan tim medis akan dilakukan sebanyak 35 kali. Kalau 1 harinya terjadi 1 kali penyinaran, dan seminggu hanya 5 kali penyinaran, berarti saya harus mondar-mandir priok-salemba sebanyak 7 minggu, atau hampir 2 bulan lamanya. Tiap harinya waktu yang terpakai untuk perjalanan, menunggu antrian sinar, penyinaran, dan perjalanan pulang kira-kira berkisar 4-6 jam. Diluar kegiatan yang berhubungan dengan RSCM, saya harus mengerjakan project demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Memasuki tanggal 11 Juni semua harus sedikit berubah, emosi untuk menyaksikan piala dunia, tanggung jawab terhadap orang tua dan tanggungan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dengan mengerjakan web project, membuat waktu terasa sempit sekali. Alhasil beberapa pertandingan piala dunia yang menurut saya tidak bagus, tidak saya saksikan terutama saat masih fase grub.
Keadaan sempitnya waktu makin terasa ketika piala dunia sudah memasuki babak knock out. Adrenalin untuk menyaksikan setiap pertandingan live melalui layar kaca sulit dibendung. Dan hasilnya, saya sering tidur ditaksi saat pulang dan berangkat ke RSCM, sering mencari-cari tempat selonjoran yang enak dipakai untuk memejamkan mata.
Dan akhirnya saya bersyukur piala duani berakhir, artinya tidak ada lagi gangguan dari luar, yang selalu memanggil saya untuk stay di depan tv selama 90 menit.
Terima kasih untuk livescore, detikcom, kompas.com, kaskus dan beberapa situs yang meliput kegiatan piala dunia. Karena mereka saya tetap bisa menikmati piala dunia ternikmat dari piala dunia sebelum-sebelumnya, karena diselingin dengan perjuangan-perjuangan tentang kehidupan.
overall nice post lah gan